Banyak orang tua merasa terbebani oleh standar kesempurnaan dalam mengasuh anak. Media sosial, buku parenting, dan lingkungan sekitar kerap menampilkan gambaran orang tua ideal: selalu sabar, selalu tahu jawaban, dan tak pernah lelah. Akibatnya, tak sedikit orang tua Muslim yang merasa gagal hanya karena merasa belum mampu menjadi “sempurna”. Padahal, dalam Islam, menjadi orang tua bukan tentang kesempurnaan, melainkan tentang kehadiran yang tulus dan bertanggung jawab.

Kehadiran orang tua bukan sekadar berada di rumah secara fisik, tetapi hadir secara emosional dan spiritual. Anak membutuhkan orang tua yang mau mendengar ceritanya, memahami perasaannya, dan membersamainya dalam doa. Dalam Islam, interaksi sederhana seperti menyapa dengan lembut, memeluk anak, atau mendoakannya diam-diam merupakan bentuk ibadah yang bernilai besar di sisi Allah.
Di tengah kesibukan mencari nafkah dan menjalani peran sosial, kehadiran sering kali menjadi hal yang terabaikan. Padahal, Si Kecil tidak selalu menuntut waktu yang panjang, melainkan perhatian yang sungguh-sungguh. Beberapa menit berbincang setelah shalat, mendampingi anak belajar Al-Qur’an, atau makan bersama tanpa distraksi sudah cukup untuk membuat anak merasa dicintai dan dihargai.
Selain itu, kehadiran orang tua tercermin dari keteladanan. Anak belajar lebih banyak dari apa yang ia lihat dibandingkan apa yang ia dengar. Ketika orang tua menjaga shalat, berkata jujur, dan bersabar dalam ujian, anak pun akan menyerap nilai-nilai tersebut secara alami. Inilah bentuk pendidikan paling kuat yang diajarkan Islam: mendidik dengan contoh nyata.
Pada akhirnya, menjadi orang tua dalam Islam adalah perjalanan panjang yang penuh proses. Tidak selalu mudah, tidak selalu sesuai rencana, namun selalu bernilai jika dijalani dengan niat yang benar. Allah ﷻ tidak menilai hasil semata, tetapi kesungguhan hamba-Nya dalam menjalankan amanah.
Maka, berhentilah mengejar kesempurnaan yang melelahkan. Hadirlah dengan cinta, doa, dan usaha terbaik. Sebab bagi Si Kecil, Ayah Bunda yang hadir adalah hadiah terbesar dan bagi Allah ﷻ, itulah bentuk tanggung jawab yang paling bermakna.
Penulis: Indra Rizki