Anak-anak adalah peniru yang luar biasa. Mereka tidak hanya mendengar apa yang kita katakan, tetapi juga mengamati dan meniru setiap gerak-gerik kita. Karena itu, orang tua sejatinya adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Nilai-nilai agama, adab, dan akhlak yang mereka pelajari di rumah akan menjadi fondasi utama dalam membentuk karakter mereka.
Allah SWT berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”
(QS. At-Tahrim: 6)
Ayat ini mengingatkan kita bahwa tanggung jawab orang tua tidak hanya sebatas memberi makan dan pakaian, tetapi juga menjaga hati dan akhlak anak melalui teladan yang baik.

Lisan adalah Cerminan Hati
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya dalam tubuh manusia ada segumpal daging, jika ia baik maka baiklah seluruh tubuhnya, dan jika ia rusak maka rusaklah seluruh tubuhnya. Ketahuilah, ia adalah hati.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Lisan merupakan cermin dari hati. Bila hati bersih, maka lisan akan lembut dan penuh kebaikan. Sebaliknya, jika hati kotor, maka ucapan pun mudah melukai. Anak-anak yang tumbuh di lingkungan dengan ucapan kasar akan menganggap hal itu wajar, sementara anak yang terbiasa mendengar tutur lembut akan meneladani kebaikan itu. Maka, menjaga lisan di depan anak bukan hanya sopan santun, tetapi pendidikan akhlak yang paling awal.
Perilaku Sebagai Teladan Nyata
Keteladanan jauh lebih kuat dari sekadar nasihat. Anak tidak hanya mendengar, mereka meniru. Saat orang tua mampu menahan amarah, menepati janji, atau berbuat jujur, anak akan belajar nilai-nilai tersebut tanpa harus banyak kata.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik akhlaknya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Akhlak orang tua menjadi cermin bagi anak-anaknya. Mereka belajar kasih sayang dari cara kita memperlakukan orang lain, belajar kejujuran dari cara kita berbicara, dan belajar tanggung jawab dari cara kita menepati janji.
Mendidik anak memang perjalanan panjang, bukan hanya dengan kata, tetapi juga dengan keteladanan yang lahir dari hati Ayah BUnda yang tulus. Menjaga lisan dan perilaku adalah bentuk kasih sayang terbesar orang tua, bukan hanya demi masa depan mereka di dunia, tetapi juga untuk keselamatan kita dan mereka di akhirat kelak.
Penulis: Indra Rizki